Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 September 2010

Self Worth-Universitas Surabaya Maju Terus

In a brief conversation, a man asked a woman he was pursuing the question: "What kind of man are you looking for?"
She sat quietly for a moment before looking him in the eye & asking, "Do you really want to know?"
Reluctantly, he said, "Yes."
 

She began to expound:
"As a woman in this day & age, I am in a position to ask a man what can you do for me that I can't do for myself? I pay my own bills. I take care of my household without the help of any man.... or woman for that matter.
I am in the position to ask, "What can you bring to the table?"
The man looked at her. Clearly he thought that she was referring to money.
She quickly corrected his thought & stated, "I am not referring to money. I need something more."

"I need a man who is striving for excellence in every aspect of life."

He sat back in his chair, folded his arms, & asked her to explain.

She said:
"I need someone who is striving for excellence mentally because I need conversation & mental stimulation. I don't need a simple-minded man.
I need someone who is striving for excellence spiritually because I don't need to be unequally yoked...believers mixed with unbelievers is a recipe for disaster.
I need a man who is striving for excellence financially because I don't need a financial burden.
I need someone who is sensitive enough to understand what I go through as a woman, but strong enough to keep me grounded.
 

I need someone who has integrity in dealing with relationships. Lies and game playing are not my idea of a strong man. 
I need a man who is family-oriented. One who can be the leader, priest and provider to the lives entrusted to him by God.
I need someone whom I can respect. In order to be submissive, I must respect him.
 

I cannot be submissive to a man who isn't taking care of his business.
I have no problem being submissive...he just has to be worthy.
And by the way, I am not looking for him...He will find me. He will recognize himself in me. He may not be able to explain the connection, but he will always be drawn to me. God made woman to be a helpmate for man. I can't help a man if he can't help himself."
 

When she finished her spill, she looked at him.
He sat there with a puzzled look on his face.
 

He said, "You are asking a lot."
 
She replied, "I'm worth a lot."

--- Author Unknown ---

posted by: Universitas Surabaya Maju Terus

The Last Lesson-Universitas Surabaya Maju Terus

Even after many years, she still has not forgotten the last day her whole class got together to say goodbye to their dearest schooldays. The gloomy faces, the watery eyes, the loving embraces, the firm handshakes promising to seek each other again up hill and down dale... those unforgettable memories always become vivid every time nostalgia drives her feet towards the old school, only to find a big, old tree with all of their names carved deep into the trunk.

She wonders herself if any of them still remembers their promises, now that time has cloaked the past memories with layers of dust and transformed each fate beyond any expectations.

The jolly "dwarf" of the class has now turned into a successful businessman. The shy, skinny "bookworm" is now a talented Ph.D. trying his luck in some distant land in the Western atmosphere. The naughty, giggly tomboy has thrown away her carefree laughter in exchange for a sheltered, comfortable life beside a caring husband. And she, a literature addict, was driven by an inner force to put her pen aside and become a teacher instead. That's a life-choice, an abandonment of her dream about which she will never feel regret.

She decided to follow her old teacher, who had sowed the seed for the cause of nurturing people in her directionless mind through his poetical lessons. She used to dream of the enlightened faces of her students engrossed in her lessons full of sunlight and sea waves.

She had also dreamed of their round eyes running over every page of the books containing expanses of the light and darkness of life. Yet, at the most decisive turn of her life's course, she didn't choose literature for her career, for she had been told that literature is just like a magical paradise to which the way is extremely rough.

Travelers always keep in their heart a boundless aspiration for happiness, though they know very well that their ultimate goal will never be achieved.

Her hands are so small; how can they hold the immensity, the depths and the fullness that literature can bring? Still, she promises herself to go ahead, bearing in mind the last words of her dear teacher:

"Don't care for what you give or receive. Learn to live generously to enjoy life, even when it's not generous toward us."

This teaching was not written in his lesson plan, but she knew it would stay with her until the end of time.

Now, she is a teacher, yet she has to continue learning numerous difficult lessons of life. The more she experiences, the better she understands the value of her teacher's last lesson.

And now, among the heaps of unemotional personal pronouns, possessive pronouns and language structures in her own lesson plans, no leafy afternoons or sunny skies can be found yet the lessons of the old days have never faded away. Instead, they are revived in her teaching style. She has given her students the whole-hearted enthusiasm and tenderness that she once received from her teacher.

Now and then, she catches sight of a warm look in the eyes of her students, which encourages her to carry on. She hopes to find herself again in her students: always listening carefully and appreciating each lesson. To her, that will be the noblest award she could ever receive in her teaching years.

She tells herself to try her best to understand and take life at its deepest. And some day, when she has enough experience and confidence, she will give her students the teachings that are not written in the lesson plans, as her teacher used to do.

--- Copyright © 2009 Do Thi Dieu Ngoc 

Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus

Rabu, 01 September 2010

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran-Universitas Surabaya Maju Terus

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… 
ayah anak 
“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.


Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus

31,104,000-Universitas Surabaya Maju Terus

Seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya: "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"

"Ha?," kata jam terperanjat,
"Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"

"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu", tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam: "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Ada kalanya kita ragu² dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.
Jangan berkata " TIDAK " sebelum Anda pernah mencobanya..

Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus

Berserah-Universitas Surabaya Maju Terus

Seorang anak kecil sedang bermain sendirian dengan mainannya. Sedang asyik-asyiknya bermain tiba-tiba mainannya itu rusak. Dia mencoba untuk mebetulkannya sendiri, tapi rupanya usahanya itu dari tadi sia sia saja. Maka dia mendatangi ayahnya untuk minta ayahnya itu yang membetulkannya.

Tapi sambil memperhatikan ayahnya dia terus memberikan instruksi kepada ayahnya, “Ayah, coba lihat bagian sebelah kiri, mungkin di situ kerusakannya.” Ayahnya menurutinya, tapi ternyata belum betul juga mainannya.

Maka dia memberi komentar lagi,” Oh, bukan di situ Yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi deh Yah.” Kali ini ayahnya juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.

“Kalau begitu coba yang di bagian depan Yah, kali aja masalahnya ada di situ.” Kali ini ayahnya marah,” Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kamu kerjakan sendiri saja? Jangan ganggu Ayah lagi. Ayah banyak kerjaan lain.”

Tapi setelah dia mencoba beberapa saat untuk membetulkan sendiri dan masih belum berhasil, maka akhirnya dia kembali kepada ayahnya sambil merengek. “Tolonglah Yah, aku suka sekali mainan ini, kalau rusak begini bagaimana? Tolong Ayah betulkan supaya bisa jalan lagi ya”

Karena tidak tega mendengar rengekan anaknya, si ayah akhirnya menyerah,” Baiklah Nak. Ayah akan membetulkan mainanmu asal kamu berjanji tidak boleh memberitahu Ayah apa yang harus dilakukan. Kamu duduk saja dan perhatikan Ayah bekerja. Tidak boleh mencela.”

Ketika ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si anak mulai berkomentar lagi,” Jangan yang itu Yah, kayaknya bagian lain yang rusak.”

Tapi kali ini ayahnya berkata, ” Kalau kamu berkomentar lagi, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri.” Akhirnya karena takut ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu diam dan duduk manis melihat ayahnya membetulkan mainannya sampai bisa berjalan lagi tanpa mengeluarkan komentar apa pun.

Seperti anak kecil itu, kita pun sering kali berserah kepada Tuhan tapi masih ingin mengatur Tuhan bagaimana sebaiknya jalan hidup kita. Bila kita sungguh-sungguh pasrah kepada kehendak Tuhan, maka niscaya Tuhan yang adalah Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan melakukan yang terbaik, lebih dari apa yang bisa kita pikirkan dan doakan, sesuai dengan kehendak-Nya.


Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus

Lelaki dan sekelompok burung udara-Universitas Surabaya Maju Terus


Seorang bapak, ia memiliki kebiasaan yang amat istimewa, yakni setiap hari ia akan datang ke tengah hutan dan memperhatikan burung-burung yang terbang riang. Sering pula ia membawa makanan dan diberikannya kepada burung-burung udara tersebut. Lama-kelamaan burung-burung tersebut menjadi amat jinak terhadapnya. Setiap hari kawanan burung tersebut akan menanti kedatangannya. Mereka akan bernyanyi riang bila telah melihat kedatangannya, mereka bahkan hinggap di kepala maupun bahunya.

Suatu hari ketika temannya mengetahui hal itu, ia diminta untuk menangkap beberapa ekor untuk dibawa pulang. Temannya bersedia membeli burung-burung tersebut untuk dipelihara. Lelaki tersebut menyetujui gagasan temannya.

Hari berikutnya. Seperti biasa lelaki itu datang ke hutan tersebut. Di sana seperti biasa pula ia menemukan kawanan burung beterbangan riang gembira di angkasa. Namun aneh...! Tak seperti biasanya, hari ini tak seekorpun burung yang datang mendekat, tak satupun yang hinggap di kepalanya atau di bahunya. Ia sungguh heran, dan bertanya diri mengapa burung-burung tersebut telah berubah hari ini?

Namun kemudian ia menjadi sadar bahwa persoalan sebenarnya bukan terletak pada burung-burung tersebut, tetapi terletak di dasar bathinnya sendiri. Hatinya kini telah berubah, hatinya kini dipenuhi oleh ketamakan.

Kini ia tahu bahwa apa yang ada dalam hatinya akan mempengaruhi juga situasi sekitarnya. Kebobrokan bathin seseorang, ketamakan dan niat jahat yang tersembunyi dalam hati seseorang akan dengan mudah mempengaruhi tindakan lahiriahnya; bahkan binatangpun mampu mengetahuinya.


Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus
Universitas Surabaya Maju Terus
Increase Page Rank Check Domain Statistics